Sabtu, 25 Agustus 2012


Bpk.Subandi
Jum’at, 10 Agustus 2012
Kategori : Akidah dan Akhlaq

Pembuka Pintu Rezeki

Secara umum rezeki adalah segala pemberian yang dapat dimanfaatkan, baik material maupun spiritual, dunia maupun akhirat.

Artinya, makanan, pakaian, rumah, kendaraan, kesehatan adalah rezeki dan kecerdasan, ilmu dan hikmah adalah rezeki pula. Orang kaya harta tetapi enggan membayar zakat dan menolong orang yang kekurangan adalah contoh orang yang kaya rezeki lahiriah tetapi miskin rezeki batiniah. Orang yang kekurangan makanan dan pakaian, tidak mempunyai tempat tinggal dan kendaraan, tubuhnya pun penyakitan tetapi hatinya selalu bersabar, tidak pernah mengeluh bahkan selalu taat kepada Allah swt dan bersyukur adalah contoh orang yang miskin rezeki lahiriah tetapi kaya rezeki batiniah. Orang yang kaya harta tetapi tidak bersyukur bahkan bermaksiat kepada Allah Ta’ala adalah contoh orang yang kaya rezeki duniawi tetapi bakal miskin rezeki di akherat nanti.


Menurut al-Imam al-Ghazali (semoga Allah merahmatinya), ketika membahas nama Allah Ta’ala al-Razzâq dalam al-Maqâshi al-asnâ fî syarh asmâillâh al-husnâ, rezeki ada dua macam, rezeki lahiriah dan rezeki batiniah. Rezeki lahiriah berupa berbagai jenis makanan untuk keperluan tubuh, sedangkan rezeki batiniah berupa pengetahuan (al-ma’ârif ) dan penyingkapan ruhaniah (al-mukasyafât) yang merupakan kebutuhan hati (al-qulûb) dan rahasia (al-asrâr)

Kita semua ingin menjadi orang yang kaya rezeki secara lahiriah dan kaya rezeki batiniah, dunia dan akherat. kalau pun tidak kaya bercukupan pun sudah luar biasa.

Apakah rezeki dapat bertambah?

Bila kita amati makanan, pakaian, uang, kesehatan, ilmu atau hikmah yang kita peroleh dalam satu bulan saja, maka pastilah kita dapati terjadi penambahan atau pengurangan. Mungkin di satu sisi ada makanan beraneka rupa tetapi di sisi lain tubuh kita menderita sakit. Atau, uang bertambah tetapi ilmu tidak bertambah.

Bpk. Nahroni
Jum'at, 3
Agustus 2012
Kategori : Akidah dan Akhlaq

Belajar Memaafkan Orang Lain

Maaf adalah kata kunci untuk membuka pintu dendam dan belenggu kebencian. Maaf mengandung sebuah kekuatan yang sanggup mematahkan rantai kepahitan dan keterikatan pada sifat mementingkan diri," demikianlah ungkapan manis yang keluar dari seorang yang bernama William Arthur Ward.

Saudaraku, kita semua pernah mengalami pasang surut dalam hubungan-hubungan kita. Di antara kita malah ada yang menerima perlakuan menyakitkan dari orang yang paling kita cintai. Ada yang setiap hari hidupnya dalam lingkungan yang terus-menerus menekan dan melecehkan harga dirinya. Ada yang berani menghadapi orang yang telah menjatuhkan semangat mereka namun ada pula yang menggigil setiap kali mengingat orang yang pernah menghancurkan kepercayaan mereka.

Begitulah, orang yang sakit hati ada di mana-mana. Hubungan antar manusia sedang dalam masa pancaroba. Kesepian merajalela. Ketidakadilan, bahkan penelantaran terjadi tanpa kendali. Mengurung pun menjadi cara pelarian yang ditempuh oleh banyak orang. Di luar sana banyak orang yang ingin sekali mendengar kata-kata, "Aku memaafkanmu," namun banyak pula korban yang terus mencari cara membalas dendam. Kita telah menjadi sebuah bangsa yang terobsesi dengan keadilan.

Entah berapa banyak orang di dunia ini yang kini sedang menunggu pemberian maaf, sama banyaknya dengan orang yang dapat memperoleh manfaat dari pemberian maaf itu. Maaf merupakan jembatan yang harus diseberangi oleh kita semua untuk meninggalkan kepedihan, sakit hati, putus asa, amarah, dan berbagai penderitaan lain. Kita memerlukan keberanian, kerendahan hati, dan kemauan yang besar untuk menempuh risiko ketika menyeberangi jembatan itu, tapi di ujung sana; kedamaian, kebahagiaan, cinta, dan kenyamanan telah menanti kita. Memaafkan secara tuntas memungkinkan kita hidup secara penuh. Allah swt berfirman, “Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” QS an-Nisaa’ [4]: 149

Begitu seringnya kita menghidupkan kembali kepahitan-kepahitan masa lalu dan bangga akan status kita sebagai seorang martir dalam setiap kejadian. Tapi sayang, ia diikuti pula oleh rasa marah, kebencian yang meracuni pengalaman yang mestinya sangat membahagiakan itu. Hanya ada satu obat dalam hal ini yaitu memaafkan dan melupakan kepahitan-kepahitan itu. Brian Tracy menyarankan agar kita "membagi selimut maaf kepada siapa pun untuk apa pun yang pernah mereka perbuat untuk menyakiti Anda."

Bpk.Sariman
Jum’at, 27 Juli 2012
Kategori : Akidah dan Akhlaq

                                    9 Macam Kejahatan Lisan

Sahabat, kalau kita putar ulang kaset2 lama, hampir dalam setiap kaset pengajiannya, Da’i sejuta ummat, KH Zainuddin MZ selalu meminta maaf kepada hadirin dan pendengar apabila ada salah kata yang kurang berkenan. Ungkapan beliau yang terkenal sebagai berikut :

"Kalau luka kulit karena pedang, banyak obat bisa dibeli, tapi luka hati karena lidah, kemana obat hendak dicari"

Saudaraku, Imam Al-Ghazali menyebutkan beberapa kejahatan yang dapat dilakukan oleh lidah kita. Hanya ada satu cara yang bisa kita lakukan untuk menghindari kejahatan lidah, yaitu dengan jalan "diam". Ungkapan Barat :"Silence is golden", ternyata benar, bahwa diam itu adalah emas. Tidak heran bila Nabi saw pernah bersabda,

“Manusia yang paling baik adalah manusia yang memberikan kelebihan hartanya dan menahan kelebihan omongannya.”

Sedikitnya ada 9 (sembilan) kejahatan lidah menurut Imam Al-Ghazali

Kejahatan lidah yang pertama adalah berbicara untuk hal-hal yang tidak perlu. Nabi saw bersabda, ”Seseorang tidak dianggap mukmin sebelum dia menghindari segala sesuatu yang tidak perlu baginya.” Ciri seorang muslim yang baik ialah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat darinya. Termasuk berbicara yang tidak membawa manfaat.

Pada suatu ketika Anas, seorang sahabat Nabi, bercerita; Suatu hari pada Perang Uhud, aku melihat seorang pemuda yang mengikatkan batu ke perutnya lantaran kelaparan. Ibunya lalu mengusap debu dari wajahnya sambil berkata, ”Semoga surga menyambutmu, wahai anakku.” Ketika melihat pemuda yang terdiam itu, Nabi berkata, ”Tidakkah engkau ketahui mengapa ia terdiam saja? Mungkin ia tidak ingin berbicara yang tidak perlu atau ia menolak dari hal-hal yang membahayakan dirinya.” Dalam riwayat lain, Nabi bersabda, ”Kalau engkau temukan seseorang yang sangat berwibawa dan banyak diamnya, ketahuilah mungkin ia sudah memperoleh hikmah.”